Rabu, 14 Oktober 2020

Perjuangan Nabi Muhammad SAW Melakukan Perubahan di Madinah

 


Kepercayaan Masyarakat Madinah Sebelum Islam

Sebelum kedatangan agama Islam ke Yasrib masyarakat kota Yasrib telah memiliki agama dan kepercayaan. Agama yang dianut penduduk Yatrib adalah Yahudi, Nasrani, dan Pagan. Secara mayoritas penduduknya memeluk agama Yahudi. Agama Yahudi masuk ke Yasrib dibawa para imigran dari wilayah utara sekitar abad ke-1 dan ke-2. Mereka datang ke Yasrib untuk menyelamatkan diri dari penjajahan Romawi. Migrasi terbesar bangsa Yahudi terjadi pada tahun132-135. Karena pemerintah Romawi menindak keras bangsa Yahudi yang mencoba melakukan pemberontakan. Diantara suku-suku bangsa yang menganut agama Yahudi adalah Bani Qainuqa, Bani Nadhir, Bani Gathafan, Bani Quraidlah. Keempat suku ini tetap mempertahankan untuk memeluk agama Yahudi walaupun Islam telah tersebar di Madinah. Kebanyakan mereka bekerjasama dengan kafir Quraisy untuk mengusir dan membunuh Nabi Muhammad Saw.

Selain Yahudi, penduduk Yasrib ada yang memeluk agama Nasrani. Penganut agama Nasrani merupakan Kelompok minoritas yang berasal dari Bani Najran. Masyarakat Bani Najran mememeluk agama nasrani pada tahun 343 M. Ketika kelompok misionaris Kristen dikirim oleh kaisar Romawi ke wilayah tersebut mereka untuk menyebarkan agama Nasrani.

Penduduk kota Yasrib Selain memeluk agama Yahudi dan Nasrani, sebagian kecil ada yang mengikuti kenyakinan orang Quraisy dan Penduduk Makkah atau dikenal dengan paganisme yaitu kepercayaan kepada benda-benda, dan kekuatan-kekuatan alam, seperti matahari, bintang-bintang, bulan, dan sebagainya. Alasan mereka mengikuti kepercayaan orang Quraisy karena mereka memandang kaum Quraisy sebagai penjaga Rumah Allah, sebagai pemimpin-pemimpin Agama, serta sebagai panutan dalam beribadah. Praktik peribadatan mereka bertentangan dengan agama Yahudi dan Nasrani. Karena itu, sering terjadi perselisihan dan keributan antara mereka dengan pemeluk agama Yahudi

Kondisi Sosial Masyarakat Madinah Sebelum Islam

Kota Yasrib merupakan salah satu kota terbesar di provinsi Hijaz. Kota yasrib dikenal sebagai kota strategis, karena merupakan jalur perdagangan yang menghubungkan kota Yaman di selatan dan Syria di utara. Selain itu Yasrib merupakan daerah yang subur sebagaian besar kehidupan masyarakatnya hidup dari bercocok tanam selain beternak. Hal ini menjadikan Yasrib sebagai pusat pertanian.

Karena faktor itu, maka banyak penduduknya yang berasal bukan dari wilayah itu. Dalam catatan sejarah diketahui kelompok yang pertama mendiami Yasrib adalah suku Amaliqah. Tidak lama kemudian, beberapa golongan Yahudi berhasil menguasai mereka dan ahirnya menetap di Madinah. Mereka datang secara bergelombang di mulai pada abad ke-1 dan ke-2. Kedatangan mereka ke Yasrib untuk menghindari serangan Romawi, yang terus mengejar mereka, karena mereka dianggap sebagai pemberontak penguasa Romawi. Kemudian datang bangsa Arab ke Yasrib karena Negerinya dilanda bencana bencana alam, berupa hancurnya bendungan Ma’rib yang dibangun sejak masa Ratu Balqis ketika kerajaan Saba masih berjaya. Kedatangan mereka diperkirakan pada tahun 300 M.

Sebelum Islam datang. Kota Yasrib memiliki beberapa kemiripan dengan keadaan di Makkah. Suku-suku dan kelompok masyarakat yang tinggal di sana berperang satu sama lain.Yasrib memiliki dua kebudayaan yaitu kebudayaan Arab dan Yahudi. Kedua kebudayaan tersebut jelas memiliki tradisi yang berbeda. Sekalipun terdapat orang-orang Arab yang memeluk Yahudi dan terjadi hubungan perkawinan diantara mereka, tapi sikap dan pola hidup bangsa Yahudi dan Arab berbeda.

Di Yasrib terdapat beberapa suku atau kabilah. diantara kabilah-kabilah yang berada di Yasrib (Madinah) antara lain:

Kabilah Aus dan Kharzaj

“Aus” dan “Kharzaj” dua suku yang terkemuka di Arab Selatan. Suku ini mendiami Yasrib jauh sebelum Islam datang. Garis keturunan suku Aus dan Khazraj sampai ke kabilah besar Yaman yang bernama Bani ‘Azd. Keturunannya terpecah menjadi dua kelompok yang saling bermusuhan dan berperang. Perang saudara berlangsung lebih dari 120 tahun. Kedua kelompok memiliki daerah kekuasaan sendiri di kota Madinah.

Kabilah Aus menempati wilayah dataran tinggi di selatan dan timur wilayah yang mereka tempati subur dan terkenal dengan hasil pertanianya. Kabilah Khazraj tinggal menempati wilayah dataran rendah di tenggah utara Madinah. Di belakang mereka tidak ada apapun kecuali kesunyian Hirrah Wabrah. Kabilah Aus mendiami wilayah-wilayah pertanian yang kaya di Madinah. Mereka bertetangga dengan Kabilah-kabilah Yahudi. Sedangkan kabilah Khazraj mendiami wilayah-wilayah yang kurang subur, dan bertetangga dengan kabilah Yahudi yang besar yakni Qainuqa.

Dalam catatan sejarah pernah terjadi perang saudara yang sangat hebat antara kabilah Aus dan Kabilah Kharzaj pada tahun ke-10 dari kenabian Muhammad SAW. Banyak pemimpin dari kedua kabilah tersebut tewas di medan perang. Pada waktu itu, kabilah Khazraj memenangkan peperangan sengit itu karena memiliki pasukan lebih banyak dari Kabilah Aus dan mendapat bantuan senjata dari bangsa Yahudi Bani Nadhir dan Baini Qainuqa. Walaupu Kabilah Aus mendapat bantuan juga dari Yahudi Bani Quraizhah.

Karena mendapat kekalahan, Kabilah Aus mengirim dua utusan ke Makkah yaitu Iyas bin Mu’adz dan Anas bin Rafi. Adapun tujuannya untuk meminta bantuan kaum Quraisy. Ketika sampai di Makkah, keduanya bertemu denga nabi Muhammad Saw. Nabi bercakap-cakap dengan keduanya dan membacakan ayat-ayat Al Quran. Ketika itu Iyas bin Mua’az tertarik dengan ajakan Nabi untuk masuk Islam. Tapi dia diingatkan oleh Anas bin Rafi tentang tujuan datang ke Makkah. Mereka ketemu dengan pembesar Quraisy dan menyampaikan tujuannya. Tapi permintaannya ditolak oleh kaum Quraisy karena mereka sedang sibuk mencegah tersebarnya ajaran Nabi Muhammad. Akhirnya keduanya kembali ke Madinah dengan tangan hampa.

Ketika keduanya sampai di Madinah, terjadi perang saudara kembali. Kali ini Kabilah Aus memperoleh kemenangan. Menurut sejarah, peperangan tersebut merupakan peperangan terakhir antara kedua kabilah. Karena sudah banyak pemimpin dari kedua kabilah tersebut masuk Islam.

Kabilah Yahudi

Bangsa Yahudi dan Bangsa Arab merupakan bangsa pendatang di Yasrib. Bangsa yahudi datang ke Yasrib karena situasi politik akibat penjajahan Romawi. Mereka menghidari Bangsa Romawi yang ingin membunuh dan menghancurkan mereka. Karena bangsa Yahudi dianggap sebagai pemberontak. Mereka kebanyakan berasal dari wilayah utara, datang ke Yasrib diperkirakan pada abad ke-1 dan ke-2. Sedangkan bangsa Arab datang ke Madinah karena bencana alam akibat hancurnya bendungan Ma’arib yang dibangun pada masa kerajaan Saba’. Mereka datang ke Madinah diperkirakan terjadi pada tahun 300 M Bangsa Yahudi di madinah terdiri dari 3 kabilah besar yaitu, Qainuqa, Nadhir, dan Quraizhah. Jumlah laki-lakinya yang sudah baligh mencapai lebih dari dua ribu orang.laki-laki di kabilah Qainuqa’ yang biasa berperang mencapai tujuh ratus orang. Bani Nadhir mencapai tujuh ratusan orang yang terbiasa perang. Sedangkan laki-laki dari Bani Quraizhah antara tujuh ratus hingga sembilan ratus orang.

Bani Nadhir menetap di Aliyah, di lembah Bathan sejauh 2 atau 3 mil dari Madinah. Daerah tersebut banyak pohon kurma dan tanaman-tanaman lainnya. Bani Quraizhah mendiami wilayah Mazhur yang terletak beberapa mil di selatan Madinah. Sedangkan bani Qainuqa tinggal di dalam kota Madinah. Mereka pindah setelah diusir oleh Bani Nadhir dan Bani Quraizhah, dari tempat mereka yang berada diluar Madinah. Bangsa Yahudi memiliki midras, yaitu tempat mereka mempelajari agama Yahudi dan sejarah rosul-rosul mereka. Mereka melahirkan ahli ilmu, ahli agama dan ahli hukum.

Pada awalnya bangsa Yahudi dan Arab dapat hidup berdampingan saling menghormati. Pada perkembangan selanjutnya, bangsa Arab melebihi jumlah penduduk bangsa Yahudi yang sudah datang duluan di Yasrib, terutama setelah Arab Yaman pindah secara masal di akhir abad ke-4 M. Mulai saat itu muncul kecurigaan dan saling mengancam diantara keduanya. Ketegangan ini berawal dari sikap bangsa Yahudi yang menyombongkan diri sebagai manusia pilihan Tuhan karena dari suku mereka banyak diutus para nabi dan rasul. Selain itu mereka adalah penganut agama tauhid, sementara masyarakat arab adalah penyembah berhala.

Apabila timbul konflik, orang Yahudi selalu berkata dengan nada ancaman bahwa semakin dekat waktu kedatangan Nabi yang diutus untuk memimpin mereka membunuh bangsa Arab. Pada waktu itu Jika ditanya tentang kedatangan Nabi, Para pendeta Yahudi selalu menunjuk ke arah Yaman. Bagi Orang Yasrib, isyarat itu bukan ke Yaman tapi kota Makkah. Ketika mendengar berita seseorang yang mengaku Nabi di Makkah, mereka berusaha mencari informasi tersebut. Setiap musim haji tiba, mereka mengutus ke Makkah untuk menyelidiki kebenaran berita tersebut. Hasilnya terjadi dua perjanjian yaitu ‘Aqabah I dan Aqabah II.

Kondisi Ekonomi Masyarakat Madinah Sebelum Islam

Kota Yasrib merupakan salah satu kota terbesar di provinsi Hijaz. Kota yasrib dikenal sebagai kota strategis, karena merupakan jalur perdagangan yang menghubungkan kota Yaman di selatan dan Syria di utara. Selain itu Yasrib merupakan daerah yang subur sebagaian besar kehidupan masyarakatnya hidup dari bercocok tanam..

Yasrib merupakan kota yang makmur dan subur dengan pertaniannya. Inilah yang membuat Yasrib berbeda dengan Kota Makkah di kondisi alam dan watak penduduknya. Air yang tersedia di kota Yasrib ini mencukupi untuk membangun pertanian. Kota ini dikelilingi oleh gunung berbatu, terdapat banyak lembah, atau yang paling terkenal dikenal dengan nama Wadi Sebagai pusat pertanian, kota Yasrib menjadi menarik bagi penduduk wilayah lain untuk pindah ke Yasrib.

Kota Yasrib terdapat daerah perSawahan dan perkebunan yang dikelola dengan baik, sehingga perSawahan dan perkebunan ini bisa menjadi sandaran hidup penduduk setempat. Penghasilan terbesarnya adalah kurma dan anggur. Kurma merupakan hasil alam yang memberikan manfaat banyak bagi kehidupan mereka, diantaranya sebagai makanan, alat bangunan, makanan hewan, bahkan seperti mata uang yang digunakan untuk tukar menukar ketika terdesak. Kurma Madinah juga banyak macamnya. Di kota Yasrib terdapat beberapa pabrik yang sebagian besar dikelola oleh orang- orang yahudi. Bani Qainuqa’ adalah kabilah yahudi terkaya di Madinah, meski jumlah mereka tidak banyak.Di Madinah terdapat banyak pasar, yang terkenal pasar Bani Qainuqa’, disana juga terdapat toko minyak wangi. Dan macam- macam jual beli lainnya, yang sesuai dengan ajaran Islam maupun tidak.

Kondisi Politik Masyarakat Madinah

Yasrib tidak pernah ada kerajaan yang mengatur kekuasaan. Sehingga Kekuasaan berada di tangan suku-suku atau kelompok tertentu tergantung kepada siapa yang paling kuat diantara mereka. Hal inilah yang mengakibatkan sering terjadinya perang antar suku dan kelompok. Kondisi tersebut hampir sama dengan keadaan di Makkah. Sebelum bangsa Yahudi datang ke Madinah dan akhirnya menguasai Madinah, suku yang pertama kali tinggal dan menguasai Yasrib adalah suku Amaliqoh. Mereka membangun perkampungan dan peradaban. Kemudian, setelah bangsa Yahudi datang ke Madinah mereka menaklukkan suku Amaliqoh dan akhirnya menguasai Madinah.

Sebelum kedatangan orang-orang Arab, Madinah sepenuhnya dikuasai oleh orang-orang Yahudi, baik secara ekonomi, politik, maupun intelektual. Bangsa Yahudi dimadinah terdiri dari Bani Nadhir, Bani Quraizhah, dan Bani Qainuqa sudah bisa membangun sebuah peradaban dengan membuat benteng-benteng untuk berlindung dari serangan arab badui. Mereka disebutkan sebagai kelompok yang paling makmur dan berbudaya.

Sejarah menyebutkan bahwa orang-orang Masehi (Kristen) di Syam (Siria) sangat membenci orang-orang Yahudi. Mereka menganggap bangsa Yahudi telah menyiksa dan menyalib Isa al-Masih. mereka menyerbu Yasrib untuk memerangi orang-orangYahudi. Dalam penyerbuan tersebut, orang-orang Kristen meminta bantuan suku Aus dan Khazraj. Suku Aus dan Khazraj, seperti halnya kaum Yahudi, juga merupakan pendatang. Keadaan tersebut menyebabkan peperangan antara Yahudi dan Kabilah Arab yaitu Aus dan Khazraj. Banyak pemimpin Yahudi yang meninggal, sehingga kekuasaan Yasrib jatuh ke tangan Aus dan Khazraj. Sebelumnya, kondisi Aus dan Khazraj merupakan buruh. Peralihan kekuasaan di Yasrib merubah kedua suku menjadi suku yang menonjol.

Setelah bangsa Yahudi kalah dan tidak berkuasa, mereka berusaha untuk memecah belah kedua suku tersebut, provokasi (penghasutan) mereka nampaknya berhasil. Muncul permusuhan antara kedua kabilah, sehingga terjadi peperangan yang tidak pernah berarkhir. Dalam kondisi seperti itu, bangsa Yahudi memiliki peluang untuk memperbesar perdagangan dan kekayaan mereka. Kekuasaan mereka yang sudah hilang dapat mereka rebut kembali. Sehingga di Yasrib terdapat 3 kekuatan yang mengendalikan Madinah yaitu kabilah Aus, Kabilah Khazraj, dan bangsa yahudi. Ketiganya telah siap tempur dan hidup dalam suasana perang yang tiada hentinya

Selain perebutan kekuasaan di antara 3 kabilah tersebut, konflik muncul karena adanya perbedaan agama. kabilah Aus dan kabilah Khazraj memeluk agama Watsani (menyembah berhala). Sedangkan bangsa Yahudi sebagai Ahlul Kitab (penganut al-Kitab) mempercayai keesaan Tuhan (monoteisme). Oleh karena itu, orang-orang Yahudi sangat mencela suku Aus dan Khazraj yang dipandangnya sebagai kaum kafir. Sama halnya dengan penganut agama Watsani di jazirah Arabia, pada bulan tertentu, yaitu Dzulhijjah, mereka melakukan ziarah ke kota Makkah. Mereka melakukan peribadatan dan penyembahan berhala yang ada di seputar Ka’bah. Ziarah ke kota Makkah biasanya dilakukan secara berombongan, baik dari kalangan suku Aus maupun Khazraj. Akan tetapi adanya hubungan sosial yang terjadi antara orang-orang Yahudi yang menetap di Madinah dengan orang-orang Aus dan Khazraj, sedikit banyak telah menyebabkan pemikiran keagamaan Yahudi dapat diketahui dan diserap oleh mereka.

Keadaan ini menyebabkan Kabilah Aus dan Khazraj lebih mudah memahami ajaran keagamaan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. dibanding penduduk Makkah. Karena itu, Orang-orang Yasrib (Madinah)mudah mengerti dan memahami ajaran-ajaran yang disampaikan Nabi Muhammad, karena ajaran itu menyerupai ajaran-ajaran yang telah mereka dengar dari orang-orang Yahudi. Salah satunya mengenai akan datangnya seorang Nabi baru. Karena itu, ketika mereka mendengar berita tentang adanya seorang Nabi di Makkah, yaitu Nabi Muhammad, mereka dengan cepat menanggapi dan mempercayainya.

Dengan alasan itu pula, kemudian mereka meminta Nabi Muhammad untuk pindah (hijrah) ke kota Yasrib dan menjadi pemimpin bagi kedua kabilah di Yasrib


Selasa, 13 Oktober 2020

Kesultanan Perlak : Kerajaan Islam Pertama Nusantara Yang Terlupakan

 


SUMBER SEJARAH KERAJAAN PERLAK

Adakah dari pembaca budiman yang sudah pernah mendengar kisah tentang kerajaan Perlak ?. Kabar tentang keberadaan Kasultanan Perlak pada mulanya masih simpang siur karena tidak didukung sumber sejarah yang cukup kuat. Namun berdasarkan sebuah seminar para ahli pada akhir September 1980 di Rantau Kuala Simpang, Aceh Timur menyimpulkan bahwa kerajaan Perlak adalah kerajaan pertama di Indonesia bahkan Asia Tenggara.

Perlak yang terletak di Aceh Timur disebut sebagai kerajaan Islam pertama (tertua) di Nusantara, bahkan di Asia Tenggara. Hal itu didasarkan pada satu dokumen tertua bernama kitab Idharul Haq Fi Mamlakatil Peureulak karangan Abu Ishak Al-Makarani Sulaiman Al-Pasy. Namun demikian, kitab yang dijadikan sumber satu-satunya tersebut juga menyisakan keraguan. Sebagian sejarawan meragukan keabsahan dari kitab tersebut, apalagi kitab yang diperlihatkan dalam sebuah seminar penetapan bahwa Perlak itu kerajaan Islam pertama di Nusantara tersebut bukan dalam bentuk asli dan sudah tidak utuh lagi, melainkan hanya lembaran lepas.

Kitab itu sendiri masih misteri, karena sampai sekarang belum ditemukan dalam bentuk aslinya sehingga ada yang mengatakan bahwa kitab Idharul Haq Fi Mamlakatil Peureulak hanya satu rekayasa sejarah untuk menguatkan pendapat bahwa berdasarkan kitab itu, Perlak adalah benar-benar kerajaan Islam pertama di Aceh dan Nusantara. Banyak peneliti sejarah yang secara kritis meragukan Perlak sebagai tempat pertama berdirinya kerajaan Islam besar di Aceh.

Hal itu juga diperkuat dengan belum ditemukannya artefak-artefak atau situs-situs tertua peninggalan sejarah sehingga para peneliti lebih cenderung menyimpulkan kerajaan Islam pertama di Aceh dan Nusantara adalah Kerajaan Islam Samudra Pasai yang terdapat di Aceh Utara. Banyak bukti yang meyakinkan, baik dalam bentuk teks maupun benda-benda arkeologis lainnya, seperti mata uang dirham Pasai dan batu-batu nisan yang bertuliskan tahun wafatnya para Sultan Kerajaan Islam Samudra Pasai. Keraguan para sejarawan tentang Kerajaan Perlak sebagai bekas kerajaan Islam pertama yang hanya mengambil dari sumber kitab Idharul Haq Fi Mamlakatil Peureulak perlu ditelaah lebih jauh lagi. Namun demikian, pembahasan tentang Kerajaan Perlak kali ini bukanlah perdebatan tentang status ketertuaan Kerajaan Perlak di Nusantara, melainkan uraian tentang Kerajaan Perlak itu sendiri sebagai sebuah kerajaan Islam yang bersejarah dan sebagai bukti bahwa Islam ketika itu sudah memiliki akar kuat untuk menancapkan pengaruh serta ajaran-ajarannya di Nusantara.


SEJARAH SINGKAT PERLAK

Kerajaan Perlak merupakan kerajaan yang terkenal sebagai penghasil kayu Perlak yang merupakan kayu yang berkualitas bagus untuk bahan baku pembuatan kapal. Tidak mengherankan jika para pedagang dari Gujarat, Arab, dan India tertarik untuk datang ke wilayah Perlak.

Karena banyak disinggahi oleh para pedagang, pada awal abad ke-8, Kerajaan Perlak berkembang sebagai bandar niaga yang amat maju. Hal ini tidak terlepas dari letak yang strategis pula di ujung utara pulau Sumatra atau berada di bibir masuk selat Malaka. Kondisi ini membuat maraknya perkawinan campuran antara para saudagar Muslim dengan penduduk setempat. Dengan demikian, realitas seperti itu mendorong perkembangan Islam yang pesat dan pada akhirnya memunculkan Kerajaan Islam Perlak sebagai kerajaan Islam di Nusantara.

Perlak adalah sebuah kerajaan dengan masa pemerintahan cukup panjang. Kerajaan yang berdiri pada tahun 840 ini berakhir pada tahun 1292 karena bergabung dengan Kerajaan Samudra Pasai. Sejarah Kerajaan Perlak tidak terlepas dari kisah seorang Sayid Maulana Ali Al-Muktabar yang datang ke Perlak beserta orang-orang Arab dari Bani Hasyim atau keturunan Rasulullah saw lainnya yang datang ke Aceh dan wilayah Nusantara lainnya. Mereka datang ke Aceh dalam rangka melakukan perdagangan sekaligus menyiarkan agama Islam. Mereka kemudian berbaur dan menikah dengan penduduk setempat.


TOKOH PENYEBARAN ISLAM DI PERLAK

Khalifah Al-Makmun mengirim pasukan ke Mekkah untuk meredakan  pemberontakan kaum Syiah yang di pimpin oleh Muhammad bin Ja’far Al-Shadiq. Kaum pemberontak dapat ditumpas, namun Muhamad bin Ja’far Al- Shadiq dan para penganutnya tidak dibunuh, tetapi disarankan oleh Khalifah Al-Makmun untuk berhijrah dan menyebarkan Islam ke Hindi, Asia Tenggara, dan daerah sekitarnya. Sebagai tindak lanjut, maka berangkatlah satu kapal yang memuat rombongan angkatan dakwah yang kemudian hari dikenal di Aceh dengan sebutan “Nakhoda Khalifah” yang mempunyai misi menyebarkan Islam.

Salah satu anggota dari Nakhoda Khalifah itu adalah Sayid Ali Al-Muktabar bin Muhammad Diba’i bin Imam Ja’far Al-Shadiq. Menurut kitab Idharul Haq Fi Mamlakatil Peureulak, pada tahun 173 H (800 M), Bandar Perlak disinggahi oleh satu kapal yang membawa kurang lebih 100 orang dai yang terdiri atas orang-orang Arab dari suku Quraisy, Palestina, Persia, dan India di bawah pimpinan Nakhoda Khalifah. Mereka datang untuk berdagang sekaligus sambil berdakwah. Setiap orang mempunyai keterampilan khusus baik di bidang pertanian, kesehatan, pemerintahan, strategi, taktik perang, maupun keahlian-keahlian lainnya.


DAKWAH ISLAM DI PERLAK

Ketika sampai di Perlak, rombongan Nakhoda Khalifah disambut dengan damai oleh penduduk dan penguasa Perlak yang berkuasa saat itu, yakni Meurah Syahir Nuwi. Dengan cara dakwah yang sangat menarik, akhirnya Meurah Syahir Nuwi memeluk agama Islam sehingga menjadi penguasa pertama yang menganut Islam di Perlak. Di sisi lain, sambil berdakwah, mereka juga menularkan keahlian itu kepada penduduk lokal secara perlahan-lahan untuk diterapkan dalam kehidupan mereka.

Kegiatan-kegiatan ini rupanya menarik penduduk lokal sehingga seiring berjalannya waktu, mereka tertarik masuk Islam secara suka rela. Sebagian dan anggota rombongan itu menikah dengan penduduk lokal, termasuk Sayid Ali Al-Muktabar yang menikah dengan adik Syahir Nuwi yang bernama Putri Tansyir Dewi. Pernikahan Sayid Ali Al-Muktabar ini dianugerahi seorang putra bernama Sayid Maulana Abdul Aziz Syah. Sayid Maulana Abdul Aziz Syah ini ketika dewasa dinobatkan menjadi sultan pertama Kerajaan Islam Perlak, bertepatan pada tanggal 1 Muharram 225 H.

Dengan berdirinya Kerajaan Islam Perlak, semakin banyak orang Arab yang datang untuk berdagang, baik dari kalangan Syiah maupun Sunni. Mereka tidak hanya berdagang, namun  juga menyebarkan ajaran Islam yang mereka yakini. Kalangan Sunni memengaruhi elite lokal yang juga masih kerabat istana Perlak. Sementara itu, kedua aliran ini (Syiah dan Sunni) terus menyebarkan pengaruhnya hingga sampai pada perebutan kekuasaan dan perlawanan terbuka yang terjadi pada masa sultan Perlak keempat, yakni Sultan Sayid Maulana Ali Mughayat Syah (915-918 M). 

Perebutan akhirnya dimenangkan pihak Sunni sekaligus menandai keruntuhan Dinasti Sayid atau Aziziyah dan lahirnya Dinasti Makhdum. Dengan demikian, sultan kelima Perlak sekaligus sultan pertama dari kalangan Sunni adalah Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir Syah Johan Berdaulat (918-922 M).

Chairil Anwar: Sastrawan Legendaris Yang Berumur Singkat

 


Siapa yang tak mengenal Chairil Anwar, pujangga yang berkarya sejak nasionalisme bangsa Indonesia bergolak menuju kemerdekaan. Suasana revolusioner penjajahan Jepang hingga agresi militer Belanda I dan II menemani tulisan – tulisan sajaknya yang dikenang sampai hari ini. Puisinya yang mencirikan kebebasan dan pemberontakan akan kemapanan dikemas dengan bahasa – bahasa baru yang lebih merdeka.

Dia tidak terikat dengan bahasa yang baku, namun tetap memiliki kedalaman makna. Meski umurnya tidak panjang akibat penyakit yang dideritanya, 27 tahun mampu membuatnya menjadi seorang pujangga terkenal yang karnyanya abadi.

Komplikasi infeksi paru – paru, tifus, luka usus dan raja singa membuat kehidupan bohemiannya yang liar harus berakhir di usia muda. Namun mati mudanya tidak lantas menghilang justeru mengekalkan imaji dirinya selaku pemberontak terhadap adat – istiadat, nilai, dan kemapanan Pujangga Baru.

Seperti halnya dengan Ludwing van Beethoven dalam bidang musik, Chairil menjadi lambang pemberontakan pembaruan tidak saja di dunia syair, namun juga dalam hal bahasa. Chairil menjadi sosok yang mengkampanyekan lahirnya penyair dan sastrawan yang membuang warisan angkatan Pujangga Baru untuk mengadopsi nilai – nilai baru angkatan ’45.

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Chairil menghadirkan kata “mampus” dan “hambus” yang dipinjamnya dari bahasa daerah; kata – kata kasar, umpatan yang biasa diteriakkan di pasar, dalam sajak – sajaknya yang menggelegar. Namun itulah justeru yang menjadi kehebatan Chairil yang mampu memasukkan kosa kata baru di dalam sajak – sajaknya.

Malang, sajak sajaknya yang indah harus berakhir pada 28 April 1949. Sang “binatang jalang” menyerah pada penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Ia pergi meninggalkan karya yang luar biasa. Salah satu diantara karyanya yang fenomenal ; Aku, deru campur debu, aku Karawang – Bekasi.

Minggu, 11 Oktober 2020

Abu Bakar As Sidiq : Masuk Islam Karena Mimpi, Sekaligus Orang Yang Cerdas Dalam Tafsir Mimpi



ABU BAKAR MASUK ISLAM KARENA MIMPI

Syeikh Muhammad bin Abu Bakar Ushfury menceritakan kisah keislaman Abu Bakar RA dalam Hadis keenam Kitab “Al-Mawa’izh Al-‘Usfuriyah” (nasihat-nasihat ringan).

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Bakar RA, disebutkan bahwa beliau adalah seorang pedagang pada masa jahiliyah. Adapun sebab keIslaman beliau adalah setelah mendapatkan sebuah  mimpi ketika sedang berada di Syam. Dalam mimpinya, Abu Bakar RA  melihat matahari dan bulan dalam pangkuannya. Kemudian beliau mengambil keduanya dengan tangan, didekap di dadanya, dan memakaikan jubahnya kepada keduanya.

Ketika Abu Bakar terjaga, beliau pergi ke rahib Nasrani untuk menanyakan tentang mimpi itu. Beliau menceritakan mimpinya dan meminta tabir darinya. Sang rahib bertanya, “Engkau darimana?”. Beliau RA menjawab: “Dari Makkah”. Dia bertanya “Dari kabilah apa?”, Beliau RA menjawab: “Dari Kabilah Tamim”. Sang Rahib bertanya lagi: “Apa pekerjaanmu?”, Abu Bakar menjawab: “Berdagang”.

Kemudian sang Rahib berkata: “Pada masamu akan keluar seorang lelaki dari Hasyimy (berasal dari bani Hasyim) namanya Mahammad al-Amin, dia dari kabilah Hasyim dan dia akan menjadi Nabi akhir zaman. Jika bukan karena itu, maka tidaklah Allah menciptakan langit dan bumi serta isi keduanya. Dan tidaklah Allah menciptakan Adam, dan tidaklah Allah menciptakan para Nabi dan para Rasul.

Dia adalah baginda para Nabi dan para Rasul serta penutup para Nabi, dan engkau akan masuk dalam Islamnya. Engkau akan menjadi menterinya dan khalifah setelahnya. Inilah ta’bir mimpimu”.

Rahib itu pun kemudian berkata: “Aku mendapati perangai dan sifatnya di Taurat, Injil dan Zabur, dan sesungguhnya aku telah masuk Islam baginya dan aku menyembunyikan keislamanku karena takut dari orang-orang Nasrani”.

Tatkala Abu Bakar mendengar penjelasan tentang sifat Muhammad SAW seperti itu dari rahib, hati Abu Bakar pun bergetar dan luluh di hadapan Rahib tersebut. Kemudian Abu Bakar kembali ke Makkah dan mencari Nabi Muhammad SAW dan akhirnya bertemu Beliau.

ABU BAKAR MENAFSIRKAN MIMPI

Abu Bakar Al-Shiddiq adalah seorang Quraisy yang paling pandai di antara bangsa Quraisy dan Arab seluruhnya. Dia mempunyai kelebihan dan kemampuan dalam menafsirkan mimpi. Dia pernah menafsirkan suatu mimpi pada masa Nabi SAW.  

 

Muhammad ibn Sirin orang pertama yang mengembangkan ilmu tafsir mimpi mengatakan, “Abu Bakar adalah orang yang paling pandai menafsirkan mimpi di kalangan umat Islam setelah Rasulullah Saw.

 

Suatu ketika seorang laki-laki datang menemui Rasulullah Saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah, semalam saya bermimpi melihat segumpal awan meneteskan minyak samin dan  madu. Kulihat orang-orang menadahkan tangannya ke arah awan tersebut.Ada yang mendapat banyak dan ada juga yang mendapat sedikit.

 

Kemudian saya melihat seutas tali terjulur dari langit ke bumi. Aku melihat engkau memegang tali itu dan naik ke atas. Setelah itu, ada yang turut memegang tali itu dan ikut naik mengikuti engkau. Laki-laki lain juga naik menyusul. Kemudian ada seorang lagi ikut naik, tetapi tali itu terputus. Setelah tali disambung maka dia naik terus ke atas.”

 

Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah saya memohon kepada engkau agar mengizinkan saya untuk menafsirkan mimpi itu.” Rasulullah Saw. menjawab, “Tafsirkanlah!”

 

Abu Bakar berkata, “Awan yang ada dalam mimpi itu adalah Islam. Sedangkan minyak samin dan madu yang menetes dari awan itu adalah Al-Quran yang manis dan lembut. Adapun orang-orang dalam mimpi itu adalah yang mendapat pemahaman dari Al-Quran. Ada yang mendapat pemahaman yang banyak dan ada juga yang mendapat pemahaman yang sedikit.

 

Tali yang terjulur dari langit adalah kebenaran yang engkau bawa dan engkau yakini, wahai Rasulullah, hingga dengannya Allah Swt. meninggikan derajat engkau. Kemudian tali (kebenaran) itu pun diikuti oleh banyak orang, hingga mereka pun mencapai derajat yang tinggi. Kemudian tali (kebenaran) itu diikuti oleh yang lain, tetapi tiba-tiba tali itu terputus. Maka dia pun berusaha untuk menyambungnya lagi, hingga tersambung dan memperoleh derajat yang tinggi.

 

Demi ayahku dan engkau, wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku, apakah tafsir mimpiku benar?” Rasulullah Saw. menjawab, “Wahai Abu Bakar, sebagian ada yang benar dan sebagian lagi ada yang salah.” Abu Bakar berkata, “Demi Allah, wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku, manakah yang benar dan salah?” Rasulullah Saw. bersabda, “Janganlah kamu bersumpah (dalam hal tafsir mimpi ini)!”


Sultan Baybars Dari Dinasti Mamluk; Penangkis Ancaman Crusader dan Mongol (Part 1)

  Sultan Baybar Nama lengkapnya adalah Al-Malik az-Zahir Ruknuddin Baybars al-Bunduq , adalah pendiri Dinasti Mamluk di Mesir generasi ke em...