Tampilkan postingan dengan label Hijrah Nabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hijrah Nabi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 November 2020

Peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah

 


PERISTIWA HIJRAH NABI MUHAMMAD SAW KE MADINAH

Para musyrikin Makkah mulai gusar mendengar berita kaum muslimin Makkah yang sudah banyak meninggalkan Makkah menuju Yasrib. Mereka khawatir ajaran Nabi Muhammad akan semakin meluas dan di sana kekuatan Islam akan bertambah kuat, pada akhirnya akan menyerang kekuatan mereka di Makkah.

Para pemuka Quraisy berkumpul di Darun Nadwah untuk membahas strategi pencekalan Nabi Muhammad Saw agar gagal meninggalkan Makkah. Akhirnya, diputuskan sebuah keputusan bulat untuk mengeksekusi Nabi Muhammad . Agar nantinya pembunuhan tersebut tak mendapatkan tuntutan balas dendam dari Bani Abdi Manaf suku klan Nabi Muhammad SAW, mereka bersepakat yang melakukan eksekusi haruslah dari para pemuda gagah berani dari koalisi berbagai suku bangsa Quraisy.

Nabi SAW memerintahkan Sayyidina Ali bin Thalib menggantikan posisi tempat tidurnya. Nabi meyakinkan bahwa tidak akan terjadi apa-apa dengan Ali bin Thalib. Sayyidina Ali pun diperintahkan untuk memPersiapkan barang-barang amanah penduduk Makkah untuk dikembalikan pada pemiliknya.

Pagi dini hari, sebelum Nabi SAW meninggalkan rumah, para pemuda Quraisy dengan pedang terhunus telah mengepung sekeliling rumah Nabi SAW dan siap membunuhnya jika keluar meninggalkan rumah. Pada saat itulah, turunlah Jibril membawakan wahyu: "Dan Kami adakan dinding di hadapan mereka dan di belakang mereka dinding (pula) dan Kami tutup penglihatan mereka dan sekali-kali mereka tidaklah dapat melihat." [QS Yasin [39]: 9]

Nabi Muhammad SAW membaca wahyu itu sembari meniupkan ke arah luar rumah. Dengan izin Allah, sekelompok pemuda kafir musyrikin itu dibuat kantuk berat dan tertidur pulas menjelang petang. Nabi melangkah meninggalkan rumah beliau dengan tenang.

Setelah terbangun mereka segera memasuki rumah Nabi SAW, namun tidak lagi mendapati Nabi kecuali hanya ada Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang sedang berbaring di kasur menggantikan posisi Nabi. Misi pemuda Quraisy tersebut membunuh Nabi SAW berakhir gagal total.

Sejak siang hari itu, hari Senin, Nabi memulai hijrah meninggalkan Kota Makkah. Langkah pertama beliau menuju ke rumah Abu Bakar bin Shiddiq dengan cara menyamar. Sesampai di sana, Abu Bakar sudah siap menunggu dengan seekor unta dan perbekalan seadanya. Abu Bakar telah menyiapkan dua ekor unta menuju Yasrib yang akan ditempuh sekitar 480 Km atau biasa dilakukan dengan kendaraan unta selama 10 hari.

Di dalam rumah Abu Bakar, Nabi SAW mengatur strategi hijrah agar dapat mengelabui kafir Quraisy yang pasti akan melakukan pengejaran hingga ke Yasrib. Nabi memutuskan memutar haluan mengambil jalur berlainan ke arah selatan menuju Yaman. Sedangkan untuk menuju ke Yasrib seharusnya ke arah utara dengan cara bersembunyi dahulu di Gua Tsur beberapa hari.

Abu Bakar pun mengatur membagi tugas-tugas khusus pada putranya Abdullah bin Abi Bakar sebagai intelijen pencari informasi tentang pergerakan kafir Quraisy yang melaporkan setiap malam ke Gua Tsur. Sedangkan putrinya, Asma bin Abi Bakar bertugas sebagai pemasok makanan susu dan daging setiap hari selama persembunyian.Pembantunya Amir bin Fahirah diperintahkan mengembalakan kambing di sekitar gua Tsur untuk menutup bekas jejak unta milik Abu Bakar di atas padang pasir agar rute perjalanan hijrah Nabi Muhammad dan Abu Bakar tidak dapat dilacak oleh kafir Quraisy.

Pemuda kafir Quraisy sempat melakukan penyisiran hingga gua Tsur. Mereka hampir saja menemukan persembunyian Nabi SAW dan Abu Bakar. Hampir saja keduanya tertangkap dan terbunuh. Abu Bakar sedemikian khawatirnya Nabi Saw terbunuh. Maka turunlah surah at-Taubah ayat 40 dimana Allah SWT menenangkan hati kekasih-Nya, "Jan ganlah takut dan sedih sesungguhnya Allah bersama kita!" Wahyu tersebut, Nabi Saw ucapkan untuk menenangkan hati Abu Bakar bin Shidiq.

Allah pun menyelamatkan mereka berdua dengan memerintahkan sepasang burung merpati bersarang di mulut gua serta sarang laba-laba yang mengindikasikan bahwa gua tersebut sudah lama belum pernah dimasuki seorang pun, sehingga kafir Quraisy yang dipimpin Umayah bin Khalaf batal memasuki gua.

Pada hari ke-3, sesuai kesepakatan yang pernah dibuat antara Abu Bakar dengan Abdullah bin Arqayat, dia datang ke Gua Tsur untuk bekerja sama membantu sebagai orang yang dibayar sebagai penunjuk jalan menuju Yasrib dengan mengambil jalan yang tak biasa dilalui orang. Padahal Abdullah bin Arqayat atau disebut juga Abdullah bin Uraiqhit ini seorang musyrikin Makkah yang menawarkan jasanya secara profesional.

Nabi Saw membutuhkan seorang pemandu disebabkan rute perjalanan yang mereka tempuh bukan rute perjalanan yang biasa ditempuh oleh kebanyakan orang, melainkan rute alternatif yang tidak banyak diketahui untuk menghindari pengejaran kafir quraisy. Di hari ke-3, Nabi Saw, Abu Bakar beserta Abdullah Arqayat mulai melakukan perjalanan hijrah dengan menggunakan seekor unta dengan rute memutar berbalik arah tujuan menuju Yaman.

Di Kota Makkah, kafir Quraisy yang gagal menemukan jejak Nabi Muhammad Saw, mengadakan sayembara yang diumumkan di pasar Ukaz dan sekeling Ka'bah bahwa siapa saja yang berhasil menangkap Muhammad, baik dalam keadaan hidup atau mati dia akan mendapatkan hadiah 100 ekor unta.

Seorang kafir Quraiys bernama Suraqah bin Malik al-Mudlaji tertarik dengan hadiah sayembara itu. Dia segera memacu kudanya untuk melakukan penyisiran sekaligus pengejaran hijrahnya Nabi SAW. Di tengah gurun pasir yang luas, Suraqah menangkap bayangan tiga orang yang sedang melakukan perjalanan menuju arah ke Madinah.

Dengan pedang terhunus, dia memacu kudanya dengan penuh semangatnya, namun beberapa kali kudanya jatuh terjungkal. Suraqah yang berniat membunuh Nabi SAW terjatuh, hingga ditolong oleh Nabi SAW. Suraqah menyadari kesalahannya, dia meminta diampuni dan menyatakan masuk Islam.

Pada hari ketiga, hari Kamis, tibalah Nabi SAW di Desa Quba, selama beberapa hari di sana, Nabi sempat mendirikan sebuah masjid. Itulah masjid pertama kali yang dibangun dalam sejarah Islam. Sampai hari ini dikenal dengan Masjid Quba.

Pada hari Jum'at, di Quba Nabi Muhammad SAW bertemu kembali dengan Ali bin Thalib yang menyusulnya. Di sini pula lah Nabi menerima keIslaman Salman al-Farisi; seorang pemeluk agama Kristen yang berasal dari Persia. Selama 4 hari hari di Quba, Nabi dan para sahabat melanjutkan perjalanan memasuki Kota Yasrib.

Sebelumnya, Nabi ditemui oleh Zubair bin Awwam yang ketika itu berusia 21 tahun yang membawakan jubah putih agar dikenakan Nabi SAW saat memasuki kota Yasrib. Perjalanan hijrah Nabi berlangsung selama 14 hari, meski biasanya sudah bisa sampai dalam waktu perjalanan 10 hari, disebabkan Nabi bertahan di gua Tsur selama 3 hari. Para penduduk di Madinah selalu menunggu kedatangan Nabi SAW di sebuah tempat bernama Harrah; di sebuah perbukitan batu hitam yang memungkinkan bisa melihat rombongan Nabi dari kejauhan.

Tepat pada hari Senin, 16 Rabiul Awwal atau bertepatan 20 September 622 M, disambut suka cita oleh segenap penduduk Yasrib dengan sambutan tabuhan gendang rebana disertai syair "Thala'al badru 'ala'ina" Nabi Saw memasuki kota Yasrib. Kedatangan Rasulullah Saw di Yasrib diperebutkan oleh penduduk kaum muslimin, mereka berebut menarik tali kekang unta beliau untuk mengajak Rasulullah bertempat tinggal di rumah mereka.

Namun, Rasulullah meminta biarlah untanya sendiri yang menentukan dimana beliau bertempat tinggal. Unta yang ditunggangi oleh Rasulullah, akhirnya berhenti di pekarangan rumah Abu Ayyub al-Anshari. Di sanalah Rasulullah, memulai bertempat tinggal beberapa bulan, sebelum akhirnya beliau membangun masjid Nabawi dan beberapa kamar untuk beliau tinggali di atas sebuah tanah yang dibeli dari kakak beradik yatim piatu di Yasrib tersebut.

Tak lama kemudian, Rasulullah mengubah nama Yasrib menjadi nama baru "Madinah al-Munawwarah" yang artinya "Kota Baru yang Bersinar". Kemudian, Khalifah Umar bin Khattab menjadikan peristiwa hijrah pada tahun 622 H atau bertepatan 20 September 622 M  inilah yang dijadikan sebagai momentum awal tahun baru Islam 1 hijriyyah dalam penanggalan umat Islam hingga hari ini.

Selasa, 03 November 2020

Penyamaran Ali bin Abi Thalib Ketika Hijrah Ke Madinah

 


Hijrah Umat Islam ke Habasyah dan Thaif

Perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam mempertahankan Iman dan dakwah Islam sungguh berat. Berbagai cobaan dialami tidak hanya oleh Nabi SAW saja namun juga seluruh umat Islam. Mulai dari hinaan, cemooh, bahkan perlakuan fisik yang mereka derita mengintai sepanjang hari. Penderitaan – penderitaan itu kemudian dirasa sangat berat hingga menyebabkan adanya sejumlah hijrah oleh umat Islam.

Pertama, hijrah ke Habasyah untuk menghindari ancaman dan siksaan dari kafir Quraisy. Upaya hijrah ke Habasyah penulis rasa cukup memberikan kedamaian sementara kepada umat Islam. Meski Raja Najasy memberikan perlindungan kepada umat muslim namun Habasyah bukan merupakan tanah air bangsa Arab, mereka meninggalkan tanah kelahiran yang mahal untuk berangkat menuju negeri Habasyah dan juga karena Habasyah jauh dari dakwah Nabi Muhammad, sementara Nabi tidak ikut hijrah pada fase hijrah ke Habasyah ini.

Kedua, hijrah ke Thaif. Sepeninggal kedua orang yang dicintainya, Rasulullah SAW mencoba untuk berhijrah. Rasulullah SAW berupaya mencari lahan dakwah baru di Thaif. Nabi SAW mencoba meminta bantuan kepada Tsaqif.

Dari perjuangan Nabi Muhammad SAW dan umat Islam dalam berikhtiar mengurangi ancaman dan siksaan oleh kaum kafir Quraisy, Nabi Muhammad memerintahkan umat Islam untuk hijrah ke Yatsrib (kelak diganti namanya menjadi Madinah oleh Nabi). Bukan tanpa alasan Nabi Muhammad SAW memilih Yatsrib sebagai tempat untuk menghindari ancaman kafir Quraisy. Namun apakah perintah berhijrah itu adalah inisiatif Nabi sendiri ??? Perintah Allah adalah alasan utama mengapa Nabi memerintahkan umat Islam untuk berhijrah ke Madinah. Rasulullah tidak akan berhijrah kecuali atas perintah Allah. Bahkan Allah melalui malaikat Jibril juga sudah menentukan waktu Rasulullah berhijrah ke Yatsrib, yaitu pada waktu tengah malam.

Penyamaran Ali Atas Perintah Rasulullah SAW

Namun ada yang menarik dari hijrahnya Nabi ke Yatsrib pada tengah malam. Pada malam itu Nabi Muhammad berkata kepada Ali bin Abi Thalib, “Tidurlah di pembaringanku. Tutuplah tubuhmu dengan selimut hijauku. Tidurlah dengan mengenakannya. Sesungguhnya tidak akan terjadi sesuatu hal buruk kepadamu dari mereka”

Sementara itu, kaum Quraisy berselisih dan masih berdebat tentang siapa yang akan menyerang pemilik pembaringan dan menangkapnya hingga subuh tiba. Namun, mereka mendapati yang tertidur adalah Ali bin Abi Thalib Mereka pun gencar menanyainya, tetapi Ali menjawab, “Tidak tahu.” Maka, sadarlah mereka bahwa Nabi Muhammad SAW telah lolos. Mereka pun menimpakan kemarahan kepada Ali dan memukulinya, lalu membawanya ke Masjidil Haram serta mengurungnya selama beberapa saat, kemudian meninggalkannya.

Ali menahan semua penderitaan yang dialaminya untuk membela agama Allah SWT. Namun, ketika mengetahui bahwa Rasulullah SAW. selamat, kegembiraan di dalam hatinya jauh lebih besar daripada semua rasa sakit dan derita yang menerpa tubuhnya. Oleh karena itulah, dia tidak menjadi lemah dan putus asa. Dia justru semakin bersikukuh tutup mulut tentang keberadaan Rasulullah SAW. Ali kemudian tinggal di Makkah selama beberapa hari. Dia berkeliling menelusuri setiap jalan untuk menemui para pemilik barang yang pernah menitipkan barangnya kepada Rasulullah SAW. Setelah semua amanat ditunaikan, sehingga terbebaslah tanggungan Rasulullah SAW, Ali pun bersiap pergi menyusul Rasulullah SAW ke Yatsrib, setelah tiga malam dia habiskan di Makkah. Dalam perjalanan hijrahnya, Ali menyembunyikan dirinya pada siang hari. Jika hari mulai gelap dan malam menjelang, dia meneruskan perjalanannya hingga tiba di Yatsrib dengan kaki yang lecet dan berlumuran darah. Hati Nabi Muhammad SAW pun sangat terenyuh melihat keadaan Ali

 

Sultan Baybars Dari Dinasti Mamluk; Penangkis Ancaman Crusader dan Mongol (Part 1)

  Sultan Baybar Nama lengkapnya adalah Al-Malik az-Zahir Ruknuddin Baybars al-Bunduq , adalah pendiri Dinasti Mamluk di Mesir generasi ke em...